Kamis, 31 Desember 2015

Assalamualaikum!

Huah, jarang banget posting disini. Itu artinya aku udah jarang banget nulis. Hahaha. Apa kabar ver? Alhamdulillah, baik banget. Jadi, dipostingan kali ini engga tau kenapa aku pengen review semua hal yang udah aku laluin di tahun ini. Hihi, nostalgia lah ceritanya. So, awal tahun kemarin aku review tentang tahun 2014 yang mana aku bener-bener ngerasa engga puas dengan diri aku waktu itu. Aku bener-bener ngerasa banyak banget waktu yang aku engga gunakan sebaik dan semaksimal mungkin.

Tentang 2015
  
Alhamdulillah, Allah memberi aku banyak kesempatan. Allah memberi aku pengalaman baru, kesempatan baru. Banyak kelemahan yang aku tulis, membuat aku mencoba untuk mengurangi bahkan menghilangkan. mulai dari rasa sok pinter dan ngerasa paling bener, Allah menebarkan ilmu-ilmu di seluruh permukaan bumi. Sekarang malah aku merasa aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. 
suka marah?
aku dihadapkan langsung dengan anak-anak yang membuat aku sadar, kalau aku bukan anak kecil lagi. aku udah engga pantes untuk mempertahankan rasa egois aku. aku dihadapkan dengan mereka yang menampar langsung rasa kekanak-kanakanku. Aku bersyukur, aku bersyukur karena bertemu dengan para pasukan cilik. pasukan yang pantang menyerah menyingkirkan batu-batu yang ada di pikiranku. 


Alhamdulillah, aku bahagia. karena memang bahagia itu datang dari Allah. Allah yang ngasi aku kebahagiaan itu. Allah yang ciptakan kebahagiaan itu. jadi  aku engga boleh lupa untuk bersyukur.  


Nah, gimana dengan tahun ini? 
Lemme write it!

RESOLUSI 2016

1. Kelemahan di tahun 2015

- Masih suka males, tapi udah mulai bisa mengontrol rasa males.
- (kadang) masih suka ngomongin orang, tapi udah mulai deg-degan karena tau kalo itu salah besar!
- Masih suka nunda-nunda, tapi engga separah dulu
- suka cepet bosen dan moody


2. Satu kata untuk 2015

HIJRAH!
kenapa aku bilang gitu, karena tahun 2015 adalah tahun perdana aku mulai belajar buanyak hal. banyak banget. Tahun 2015 adalah titik dimana aku mulai pekerjaan baru (oia, salah satu wishlistku tahun lalu adalah bisa jadi pengajar dan Alhamdulillah tercapai), tahun dimana aku mulai bergabung di Liqo, ODOJ (next, mungkin aku akan cerita tentang ODOJ)


3. Satu kata untuk 2016

BERKARYA!
di tahun 2016 semoga Allah berikan aku semangat juang dakwah, agar aku bisa berkarya. Karena aku sadar, merubah penampilan saja tidak akan cukup untuk mencuri perhatian-Nya. aku ingin jadi perempuan yang Allah sayang. 


4. Yang ingin di temukan di tahun 2016

Experience, love, study, and family


5. Yang ingin di hindari di tahun 2016

Rasa males dan rasa takut 
(mungkin lebih tepatnya dibuang)


6. Penyesalan di tahun 2015

Alhamdulillah, sejujurnya tahun 2015 adalah tahun yang berarti buat aku. Aku bener-bener berjalan ke arah yang lebih baik. Jauh lebih baik dibanding aku yang sebelumnya. Aku bener-bener bersyukur karena Allah memberikan aku banyak karunia-Nya. Alhamdulillah, engga ada penyesalan yang aku pengen share disini. Karena Allah Maha Baik. Allah sayang sama aku.


7. Jika bisa kembali, apa yang mau kamu ubah

Aku pengen mengubah pola hidup aku, biar lebih teratur. Sehingga, waktu yang aku gunakan bisa bermanfaat untuk diriku sendiri, orang yang aku sayang, dan orang disekitar aku.


8. Yang paling ingin dibahagiakan

Mama


9. Skala 1-10
seberapa ingin berkarya?
9
Seberapa puas dengan hasil pekerjaan atau hasil belajar di tahun 2015?
Pekerjaan : 7
Belajar : 6
Skala mengendalikan emosi?
5
Ditahun mendatang
8
Skala hubungan dengan Tuhan? (tahun 2015)
5

em, sekian dulu deh. 

Minggu, 16 Agustus 2015

Bagaimana mengajarmu, ver?
 Seru? 
Menyenangkan?

Aku adalah seorang pengajar disebuah lembaga milik sekolah. Kewalahan memang harus berhadapan dengan peserta didik yang notabene masih kecil-kecil. Tapi itu semua aku hadapi dengan rasa syukur kepada Allah karena telah memberikanku posisi ini.

Pada minggu pertama, memang sedikit kebingungan menghadapi mereka, khususnya kelas 3 SD. Karena sebelumnya aku belum pernah mempelajari bahkan mengetahui bagaimana menghadapi dan gaya belajar seperti apa yang mereka sukai namun mereka tetap berkonsentrasi kepada pelajaran. Maka jadilah, aku seperti halnya seorang guru di kelas. Menjelaskan dipapan tulis. Namun, ternyata cara tersebut belum ampuh. Minggu pertamaku gagal.

Berlanjut minggu kedua. Aku mencoba membuat soal rangkuman berupa pilihan berganda. Karena mereka juga belum begitu disibukkan dengan PR, maka tidak begitu sulit bagiku untuk sekedar meminta mereka untuk mengerjakan soal tersebut. Namun, tantangan selanjutnya adalah mereka sangat bosan mencari jawaban dibuku panduan mereka. Jangankan mencari, membaca soalku saja mereka langsung menyerah “bu, saya gak tau jawabannya”,”bu, jawabannya apa?”, “bu, saya ga ngerti”. Tantanganku selanjutnya adalah beberapa orang dari mereka suka lupa membawa buku cetaknya yang membuatku harus mengambil keputusan untuk berkongsi dengan temannya. Ya, aku tau dengan berkongsi bersama temannya, akan membuat kelas menjadi gaduh. Karena mereka yang tidak membawa buku, dengan tenangnya meminjam jawaban dari temannya yang lain. Huf!. Tapi tidak mengapa, karena minggu keduaku Alhamdulillah jauh lebih baik.

Minggu ketiga. Minggu dimana aku mencoba untuk mengulas jawaban dan bertanya jawab mengenai soal-soal yang pada minggu sebelumnya. Nah, yang menarik disini dengan metode yang seperti ini mereka secara tidak sadar aku ajak menghapal. Terlebih juga, pada minggu kedua sebelum mereka pulang aku sudah mulai menerapkan sistem “Yang jawab, boleh pulang” dan pada minggu ketiga “Selesaikan soal dari ibu, sampai selesai. Setelah itu jawab soal. Lalu boleh pulang”. Yes! Metode itu Alhamdulillah lumayan berhasil.

Nah, bagaimana dengan menghadapi anak-anak kelas 1? 
Hmm, bisa dibilang anak-anak dibawah asuhanku adalah anak-anak yang luar biasa aktifnya (salah satunya adalah menerbangkan pesawat di ruang guru, dan pesawat itu eksis nyangkut di selipan atapnya. Haha). 

Well, bersikap galak sehingga anak-anak mereka menjadi tenang, bukan pilihanku. 

Aku menyadari bahwa, dunia yang sedang mereka hadapi adalah dunia bermain. Sehingga, aku mencoba berdamai dengan dunia mereka. well, jadilah aku membiarkan mereka dengan kelasakannya. Asalkan! Mereka juga menyelesaikan beberapa soal yang merupakan kewajiban mereka. gampang saja membuat mereka menyelesaikan kewajiban mereka. “yang selesai menulis dan menjawab soal, boleh pulang”. Haha! Heeey! Mereka bosen belajar, yang mereka cari sekarang adalah bagaimana mereka bermain, kreatif dan bergaul bersama temannya. Itu!
Next, doakan aku yang akan menyambut minggu-minggu selanjutnya dengan kejutan-kejutan yang menyenangkan yaaaaah!. Aamiin


H A M A S A H !

Sabtu, 15 Agustus 2015

Miss,
Tuhan Miss itu yang kayak gimana bentuknya?
Gambarnya kayak apa?
C****** – 10 tahun


Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah
Karena pada akhirnya, Allah memberikanku amanah berupa menjalankan profesi sesuai dengan bidang pendidikan yang aku ambil semasa kuliah. Gimana ver? Asik? Ma Shaa Allah, aku bersyukur karena amanah ini berupa apa yang aku idamkan. 
Semoga ini salah satu caraku bertasbih kepada Allah.

Kamu ngajar dimana sih?
Aku mengajar di sebuah sekolah yang berlatar belakang agama. Namun bukan agama yang aku anut. Peserta didik yang aku temui pun adalah anak-anak yang sedang imut-imutnya, sedang aktif-aktifnya, dan sedang sangat ingin tahu.

***
Banyak hal baru, yang aku temui ketika aku mulai belajar mendekat pada Allah. Banyak hal menarik yang terkadang membuat hatiku terharu, membuat aku merasa.. 

“Allah, apakah kau sedekat ini? Sungguh?”. 

Ketika aku meminta bantuan atas pertanyaan yang bergerumul diotakku, Allah senantiasa memberikanku petunjuk. Entah lewat hembusan angin, entah lewat suara yang mendaum ditelingaku, lewat sinar matahari yang menembus sekat-sekat dedaunan di pohon, ataupun lewat teman-teman yang baik hati. 
Ma Shaa Allahu Alhamdulillah.

Salah satunya yang menarik adalah pernyataan dan pertanyaan yang terlontar lewat bibir merah jambu milik seorang gadis kecil. Entahlah, gadis ini punya rasa ingin tahu yang (jika dibanding dengan temannya) lumayan.

“Miss, mau kemana?” Sapanya ketika bertemu di koridor sekolah.
“mau shalat” Jawabku tersenyum, sembari masuk ke ruang ibadah.
“aku tunggu ya Miss” ia balas senyumku sembari memamerkan giginya yang bolong satu 
“boleh, terserah kamu” - “Miss, masuk dulu ya”

Ternyata, dia penasaran dengan apa yang aku lakukan di ruang ibadah. Hal itu, aku ketahui ketiaka ia ketahuan mengintip (sambil memanjat di kursi) jendela dan setelah dikelas kami melakukan percakapan ringan.

“Miss, tadi yang pakai jilbab biru kan?” tanya gadis kecil itu.
“itu namanya mukenah sayang”
“oh. Miss, aku juga ada berdoa. Tuhanku yang di depan itu loh Miss, kalo kita mau masuk sekolah. Yang besar itu” tangannya menunjuk ke suatu arah.
“Iya, Miss tau. Nama tuhan kamu, Laomu kan?”
“Iya Miss, kalo Miss apa?” ia mengajukan pertanyaan itu, polos.
“Allah”
“Tuhan Miss itu yang kayak gimana bentuknya? Gambarnya kayak apa?”
“Tuhan Miss itu, tidak berwujud. Dipercayai dengan Iman” aku mendekap dadaku. “Tuhan Miss, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan” aku mencoba menjawab pertanyaan gadis kecil ini dan jelas, dari raut wajahnya dia tidak mengerti. Aku tersenyum.

Yip! Mengajar di sebuah sekolah yang berlatarkan agama, namun bukan agama yang kuanut adalah sebuah tantangan tersendiri. Bila biasanya, aku adalah mayoritas. Disini, aku adalah minoritas. Tapi, disini aku belajar tentang profesional dan tepat waktu. Karena, aku memang diberikan waktu istirahat yang sesuai dengan jadwalku shalat. Jikalau aku tidak disiplin menggunakan waktu istirahatku dengan baik, maka aku pun akan lalai melaksanakan kewajibanku.

Banyak hal yang pelajari dan membuat aku terus menerus belajar. 
Dari caraku untuk menghormati orang lain, 
menghormati apa yang orang lain genggam. 
Rasanya, Allah selalu memberiku kejutan-kejutan baru setiap harinya. 
Terkadang kejutan yang membuatku bahagia, bingung, 
dan kejutan berupa

 “ver, kamu harus belajar lagi”.


***

Tentang jodoh, perasaan cinta.
Sama halnya perempuan yang lain. Aku tak menafikkan diri, bahwa aku pemilik selemah-lemahnya iman. Terkadang perasaan “aku ingin berduaan saja dengan Allah” itu melekat keras bagai batu, tapi dikemudian waktu, batu itu menjelma menjadi bongkahan es yang bisa saja mencair, yaaa sama halnya belajar terkadang (sering) virus M(alas) itu menyerang bagai rudal. Tapi, aku selalu berharap, semoga Allah selalu membantuku, hamba-Nya yang belajar untuk istiqamah.


HAMASAH!!!

Sabtu, 27 Juni 2015

Tentang Perubahan



"Hijrah adalah berubah dari yang buruk ke arah yang lebih baik. Hijrah pun terbagi menjadi tiga yaitu hijrah hati,hijrah lisan dan hijrah perbuatan"

Alhamdulillah, karena hari ini aku belum berkesempatan untuk bisa hadir dalam acara yang dilaksanakan oleh Kelas Inspirasi Batam yaitu Sehari Berbagi bersama Anak Panti Asuhan An-Nur di Dapur 12, maka sabtu sore yang ceria ini aku isi dengan menonton televisi. Acara yang sarat akan nasihat dan sejuk untuk disimak diisi oleh Ustadzah Oki Setiana Dewi dan Ummi Pipik, dua orang aku kagumi dan hari ini mereka membawakan acara dengan tema Hijrah.

Berbicara mengenai hijrah, Rasullullah SAW pernah melaksanakan hijrah dari Makkah ke Madinah. Saat itu, Rasullullah tengah diberi Ujian oleh Allah SWT yaitu kehilangan orang yang ia sayangi. Istrinya Khadijah dan Pamannya Abu Thalib. Saat itu juga, Rasul beserta sahabat dan umatnya sedang dalam kondisi yang tertekan oleh ancaman dari kaum kafir. Maka dari itu, Rasul pun memilih untuk berhijrah.
“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu berusaha untuk merubahnya”
Jadi inget pengalaman menggunakan jilbab seperti saat ini. Aku memutuskan menggunakan hijab yang Allah perintahkan tahun ini, padahal sudah aku niatkan dari beberapa tahun yang lalu. Tapi ya gitu, hanya sekedar niat tanpa perbuatan. Beli beberapa jilbab di toko online, ketika barang sudah sampai di rumah, segera aku coba dan berkaca. Terbesit didalam hati “Yaa Allah, dengan dosaku yang begitu banyaknya. Dengan kelakuan yang jauh dari kata baik, dengan tutur kata yang jauh dari kata santun, manalah pantas aku menggunakan jilbab sepanjang ini”. Jilbab itupun ku lepas.

Coba lagi menggunakan rok jika sedang bekerja dan kuliah. Hampir beberapa bulan, rok selalu jadi andalan. Tapi, karena stok rok-ku tidak begitu banyak, dan kebanyakan rokku juga mengusam dan ada juga yang robek *nah, kalo ini entahlah kenapa. Mungkin karena akunya yang lasak*, sekali lagi aku menggunakan celana jeans. Dan malah keterusan. Rok pun disimpan dengan rapih.

Pernah juga, mencoba untuk menggunakan gamis ke kampus. Pujian aku terima, tapi entah kenapa aku merasa tidak pantas dengan pujian itu. Sama halnya dengan rok, karena stok gamisku sedikit dengan niat awalku juga hanya coba-coba, gamispun kulepas. Mulai saat itu, jeans dan kaos tidak pernah lepas dari kehidupanku.

Lalu, mengapa aku memutuskan untuk berhijrah dalam bentuk pakaian?

Aku pernah membaca kata-kata dengan bunyi “Taat, tanpa tapi”. Sederhana dan berhasil membiusku. Kembali, sepulang kantor aku coba menghitung stok gamis yang aku punya. Ternyata hanya dua. Ku kenakan gamis itu, berkaca dan kemudian terlintas lagi di dalam hati “Yaa Allah, aku tidaklah pantas!. Jauh dari pantas”. Ku gantung dan kusimpan kembali gamisku.

Keesokan harinya, aku coba bertanya kepada beberapa temanku “Kalo aku pake gamis, gimana ya?”. Ada yang berkata “ya dicoba aja” ada juga yang berkata “kamu yakin?” dan tidak munafik memang, hatiku condong kearah pertanyaan “kamu yakin?”.

Namun, itulah hebatnya Allah. Entahlah, mungkin itulah cara-Nya berbicara padaku. Aku kembali membaca tulisan yang intinya “Jika bukan sekarang, kapan lagi?”. Kemudian, dengan mengucapkan Bismillah aku kenakan baju gamisku yang hanya dua buah setiap harinya selama bergantian. Awalnya memang banyak sekali yang menyangsikan “Halah, paling besok gak pake lagi. Ha ha ha”. Aku hanya menjawab “Doain yaa, semoga kali ini selamanya” tapi Alhamdulillah banyak juga yang mendukung dengan banyak cara, semoga kita semua bisa jadi hamba yang Allah sayang. Aamiin. Aamiin, Yaa Rabbal Aalamiin..

*PS :

- Terimakasih yang teramat banyak kepada Tole aka dartik yang sudah membuka hati aku. Kalo aja ko ga ngajakin aku ketempat bude, ataupun ko ga izinin aku pake semua gamismu satu-satu. Mungkin saat ini aku masih seperti yang dulu.

- Terimakasih buat dek Rani yang udah support kakak
- Terimakasih buat kak Maya yang terus terusan ngajakin aku banyakin gamis sampai dompet tipis. Tapi bener kok apa kata kakak, untuk urusan Akhirat ga boleh pelit.
- Terimakasih buat Nana yang udah mau jadi teman curhat dan berbaik hati memberikan jilbabnya yang syar’i buat aku. Aku terharu pake banget loh na.. semoga Allah selalu sayang samamu..
- dan Terimakasih buat teman-teman yang udah jadi inspirasi aku. Semoga Allah sayang sama kita. Aamiin..

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu amat baik untukmu
Boleh jadi kamu menyenangi sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu
Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak”
Al-Baqarah : 216

Aku termasuk perempuan yang jika sedang dirundung perasaan suka terhadap seseorang, maka duniaku terpaut akan orang tersebut. Perasaan itu terkadang membius semangat, terkadang pula mematikan. Padahal, Allah sendiri yang bilang tidak boleh yang namanya pacaran. Tapi, sama halnya manusia lain, aku adalah pemilik selemah-lemahnya iman.

Terkadang aku iri dengan mereka yang dengan tegasnya mengatakan TIDAK! Pada pacaran. Aku salut pada mereka. Semoga Allah memberikan mereka jodoh terbaiknya. Aku sedang dalam proses itu, sedang belajar untuk membenahi diriku sendiri untuk bisa tegas dalam masalah perasaan. Aku tidak ingin berteriak terlalu kencang mengatakan tidak boleh pacaran, tapi aku sedang belajar untuk mengelola hati.

Aku hanya menyetujui, bahwa dengan pacaran tidak akan merubah kita menjadi lebih baik. Karena Allah tidak akan melarang sesuatu, kecuali Ia mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebagai pelajaraan dan catatan untuk diriku sendiri, dari sebagian besar hal yang kualami sendiri dan hasil curhatan teman-temanku. Pacaran memang tidak menghasilkan apapun, tidak menjamin apapun. Maka sebaik-baik hubungan yang Allah ridhoi memanglah Nikaah.

Aku bersyukur, karena Allah dengan kasih sayang-Nya menjaga aku dengan cara seperti ini. Aku ingat sewaktu aku patah hati, dunia serasa runtuh, pekerjaan jadi tak menentu, di kamar pun Cuma menghabiskan waktu. Aneh. Tapi sekarang aku sadar, mungkin ini memang yang terbaik yang Allah mau karena Allah yang paling mengetahui mana yang bisa membuat aku bahagia.
“Kesabaran itu ada pada guncangan yang pertama”
HR. Tarmidzi
Panikan. Satu kata yang cocok banget mendeskripsikan aku. Dengan pekerjaan yang super banyak dan keinginan untuk segera menyelesaikannya dengan cepat dan benar (tuntutan atasan) menjadikan aku perempuan yang panikan dan berujung dengan tidak sabaran. Kadang juga, apabila ada pekerjaan yang tidak beres, bisa membuat moodku rusak dan jadinya uring-uringan. Yes! Thats my bad. Aku belum menjadi perempuan yang sabar. Semoga aku bisa mengelola hati dan pikiranku. Aamiin.

Jadi tadi sewaktu aku menonton kultum, ummi pipik mengatakan “Jangan minta kesabaran kepada Allah, karena bisa jadi Allah akan menambah Ujianmu. Tapi mintalah pertolongan kepada-Nya karena Allah adalah sebaik-baik penolong” (intinya sih gitu).

Sering, ketika ga bisa mengontrol emosiku untuk masalah yang sepele aku beradu pendapat dengan temanku dan keseringan juga kami jadi diem-dieman. Sering, ketika ga bisa mengontrol emosiku untuk masalah yang menurutku harusnya bisa dipecahkan apabila difikirkan bersama, aku memilih untuk menyelesaikannya sendiri. Aku yang diam. Kadang aku bertanya sendiri dalam hati, Kenapa sihhh?!

“Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan umat-Nya”

Yes, mungkin ini adalah ujian agar aku bisa mengontrol emosi, intonasi bicara, raut muka, dan pemilihan kata-kata. Kadang, aku merasa yang aku lakukan sudah benar tapi kenyataanya orang lain tidak suka. Mungkin aku harus perbanyak koreksi diri, perbanyak berbenah diri. Hijrah perilaku.
“Berhentilah mendzolimi dirimu sendiri”
Dari cerita diatas, aku simpulkan bahwa aku telah mendzolimi diriku sendiri dengan menjadi egois, sombong, dan emosional. Ternyata kata move on tidak hanya dilakukan untuk orang yang belum bisa melupakan masa lalu, namun juga orang sepertiku yang belum bisa berubah atau hijrah perilaku kearah yang lebih baik. Semoga Allah selalu dan selalu menolongku dan kita semua agar bisa berhenti mendzolimi diri sendiri. Semoga aku dan kita semua bisa belajar memperbaiki diri, sifat dan sikap. Aamiin, Yaa Allah.. Allahumma Aaamiin..

Dan yang terakhir, nasihat yang aku dapatkan dari Kultum itu adalah


“Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu”

Aku adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang percaya bahwa masalah akan dapat lebih mudah diselesaikan apabila kita bercerita kepada Allah, memanjangkan sujud sama halnya seperti memeluk Allah, karena dengan cara itulah Allah mendengarkanku, memalingkan perhatian-Nya kearahku, menatap hanya kepadaku.


Kamis, 25 Juni 2015

“Bulan Ramadhan, apa aja kegiatan kalian teman-teman?”
Pertanyaan yang dilontarkan temanku di sebuah grup komunitas. Kegiatanku Alhamdulillah biasa saja, namun aku bahagia dengan kegiatanku ini. Izinkan aku menjawab pertanyaan itu lewat tulisan di blogku yang sederhana ini.

Jujur saja, sudah dua tahun aku memang tidak melaksanakan Ramadhan dengan baik. Ada saja alasanku untuk bolong mengerjakan tarawih di mesjid. Puasaku pun memang hanya sekedar menahan rasa lapar dan dahaga. Sibuk bertanya nanti buka puasa pakai apa? Buka bareng dimana?. Tidak pula rajin untuk sekedar membaca satu atau dua ayat Al-Qur’an. Dua tahun yang biasa saja.

Itulah mengapa, aku bahagia di Ramadhan tahun ini. Allah memperkenankan aku, untuk bisa memeluk-Nya dengan cara yang Ia sediakan.

Dimulai sebelum Ramadhan datang, aku membuka buku catatanku yang berisi beberapa wishlist. Dan gatau datang darimana, perasaan dari mana, aku menulis ingin tadarusan di Mesjid. Padahal sudah lama sekali aku tidak tadarusan di masjid, mungkin setelah masuk dari SMK aku sudah tidak melaksanakannya lagi. Selesai kutulis kalimat itu, aku tidur.

***
Alhamdulillah,
Akhirnya Tarawihan pun tiba!!
Duar! Alhamdulillah mesjid kami pun penuh dengan muslim dan muslimah yang berlomba menjemput rezeki dari Allah, yaitu bisa shalat tarawihan berjamaah. Aku salah satu muslimah yang beruntung, ternyata fasilitas mesjidku berubah jauh lebih baik (ya, walaupun sering terjadi aksi mati lampu, karna gak kuat nahan beban listrik yang kebanyakan di sedot oleh si AC) dan yang lebih uwow lagi adalah arah kiblat di masjidku berubah!.
sewaktu aku tanyakan kepada adikku, asep. Dia malah bilang “Parah ko kak, dah lama arah kiblat di Mesjid berubah”. Aku Cuma jawab “ya kakak kan ga pernah shalat jumat, haha”. Fine, dia males nanggepin.
Selesai tarawihan, aku sengaja engga langsung pulang karena pengen tadarusan. Oh iya, Aku disini juga jadi sadar kalau temen-temen seangkatan aku udah pada mengejar mimpinya di negeri orang. Sementara aku berbuat sebaik mungkin dulu aja kali ya di negeri sendiri sambil nunggu moga moga ajahh Allah mau ngasi kesempatan. Hehe!. Akhirnya aku mendekat ke Bunda lili, guru yang biasanya jadi pembimbing tadarus dan Mutia. Sama-sama nunggu dan aku bingung karena pada gak ada yang mendekat buat tadarusan. “Bun? Ga tadarusan ya?”. dan taaraaa! ternyata gak Cuma aku doang yang bingung. Fine.
Karena posisi sholat tarawih untuk perempuan di lantai dua mesjid, maka kamipun bergegas turun ke bawah. Dan aku kaget lagi, ternyata pembimbingnya sekarang ga Cuma bunda lili, tapi banyak bunda-bunda lainnya *yang pasti ga ada bunda yang seumuran sama aku, aku yang muda belia dan Aku bener-bener udah ketinggalan info banget!.
Singkat cerita, Selesai dari kekagetanku itu aku dikagetkan lagi karena awalnya aku pengen tadarusan yang terjadi adalah aku jadi pembimbing tadarus anak-anak yang masih kecil banget tapi udah lancar dan merdu banget baca Al-Qur’annya.

Ma Shaa Allah.. aku merasa beruntung karena Allah memberikanku amanah ini. Alhamdulillah..


Ini adalah hari ke delapan aku jadi kakak mereka: Dika, Rizky, Yasin, Yaser, dan Deva. Alhamdulillah mereka rajin masuk tadarus, semakin lancar baca Al-Qur’annya, dan semakin merdu suara setiap harinya. Aamiin.

Mereka mengajarkan aku tentang arti Istiqamah.

Mengapa?. Aku ingat pada hari dimana aku tidak masuk karena aku telat pulang dari kantor, tidak sempat tarawih. Rizky bilang “Kakak, jangan gak masuk lagi la..” disambut oleh Dika “Iya kak, kami kemarin nyariin kakak. Bang asep bilang kakak belum pulang kerja”. Okeh, aku terharu! *pundak mana pundak, fedi nuril plis sediain pundak kamu*

Aku bersyukur, karena Allah memberikan aku oksigen melalui mereka.
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..






Minggu, 07 Juni 2015

Karena semakin bertambah umur, 
semakin bertambah pula tanggung jawab yang ada di pundak, 
semakin besar pula keinginan untuk dapat memberikan yang terbaik 
sebagai tiket bertemu dengan Sang Pemilik Nyawa

Hai Haai Haaai,
Assalamualaikum!!
Kemarin, adalah hari lahir teman sekaligus sahabat yang udah tau deh isi dalem dan luarnya aku tanpa perlu aku bercerita banyak-banyak.




Windarti Dwi Utami
*jilbab coklat, #plisabaikanajah!*

Yes! dia adalah temen kampus sekaligus teman pertama aku di kelas sewaktu menempuh pendidikan di fakultas keguruan. Alhamdulillah, sekarang masih awet aja kami temenannya. Banyak banget hal yang udah kami lewatin bareng-bareng, mulai dari ujan-ujanan sampai menatap langit dikala bulan sedang bundar dan tiada bintang yang menemani di angkasa luas (dan selalu berakhir dengan recok!).
Aku banyak belajar dari sahabat aku satu ini, karena memang aku sadari aku adalah cewek dengan temperamental lumayan ganas, dan dia dengan keantengan luar biasa bisa membuat aku berfikir sedikit lebih dalam. hua! *peluk manja*


*doi bilang aku niat amat bikin ni sertifikat, sebenernya mau di print sih*

Ga banyak yang bisa aku sampaikan lewat lisan, tapi doaku adalah semoga doamu segera Allah approve. 

Rabu, 03 Juni 2015

Menjalani waktu dengan energi positif, mempelajari hal baru, tempat baru, teman baru, suasana baru. Ini yang aku rasakan setelah aku memutuskan untuk berhijrah menggunakan pakaian yang Allah perintahkan. Alhamdulillah, pelan tapi pasti hidupku berubah menjadi menyenangkan. Mengapa begitu? Karena Allah selalu mencintai hamba-Nya yang mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat. Semoga Allah bisa menaruh cinta-Nya padaku, meskipun itu sebuah cita-cita yang sangat tinggi, menurutku. Tapi, berharap boleh toh?
                Menggunakan jilbab syar’i benar-benar membuat aku merasakan kenyamanan. Baiklah, meskipun dari luar aku tercover seperti ukhty-ukhty pada umumnya, sesungguhnya aku hanya perempuan yang sama seperti remaja zaman sekarang. Aku masih perlu banyak belajar, dan claim “aku adalah perempuan alim” sangatlah tidak cocok untuk perempuan sepertiku. Karena sekali lagi, aku hanya perempuan biasa yang punya banyak kesalahan, jika saja Allah tidak menutup aibku, maka jadilah aku orang yang paling hina di dunia ini.

                Minggu, 31 Juni 2015
                Alhamdulillah, dari tag-an teman kelas inspirasi yang bernama kak dian ku injakkan kakiku ke kampus politeknik batam untuk mengikuti seminar gratis “sukses menulis cerita anak” yang dibawakan oleh Kang ali, seorang penulis yang meraih penghargaan-penghargaan penting karena konsennya ia dalam bidang tulis menulis.

                Ah ver! Biasa aja kali dateng ke seminar gratis juga! Kayak ga pernah aja.

                Iya sih, sebenernya biasa-biasa aja. Tapi setelah aku datang lalu aku coba untuk fokus kedalam materi yang ia sampaikan, aku sampai pada pemikiran bahwa setiap kita adalah seorang pembelajar, dan dengan berbagi ilmu maka pembelajar itu akan mendapatkan ilmu yang baru. Menurutku, dalam menyampaikan materi presentasi Kang Ali adalah seorang pembelajar yang sedang membagikan ilmunya sebagai seorang penulis. Yes! Dengan ia membagikan ilmunya, ia kembali belajar bagaimana cara agar ia dapat membagikan ilmunya kepada orang lain.
                Dari seminar yang aku dapatkan, Kang Ali menyatakan bahwa menulis cerita anak itu gampang! Yang penting kita punya tema, penokohan, latar tempat yang biasa dilalui anak-anak, lalu dari semua itu jadilah kita buatkan alur ceritanya. Misalnya, tema yang ingin kita angkat adalah mengenai jangan boros menggunakan air. Penokohannya Fathia, Zia, dan Ibu. Tempat yang biasa dilalui anak-anak adalah sekolah, dapur, kamar, kamar mandi, ruang keluarga. Dari kerangka itu, maka jadilah sebuah cerita yang nanti deh, aku coba jabarkan di postingan selanjutnya.
                Dan sepulang dari seminar itu, aku sadar bahwa aku benar-benar menghabiskan masa waktu 4 tahunku dengan cara yang membosankan dan tidak berguna sama sekali. Ya, banyak sekali yang harus aku benahi dalam hidupku ini, salah banyaknya adalah cara aku berfikir, cara aku mengambil keputusan dan melaksanakan keputusanku, cara aku menghabiskan waktu, dan masih banyak lagi.





                Senin, 1 Juni 2015
                Yes, jadi inget lagunya Tulus yang berjudul Satu hari di bulan juni. Ah apa banget ya! Haha. Jadi aku ga perlu cerita tentang apa yang aku temui di tanggal 1 juni itu, tapi yang pasti mungkin ini cara Allah sayang sama aku. Sengaja Allah mempertemukan aku dengan hal-hal yang nantinya akan jadi pelajaran buat aku kedepannya. Allah sayang aku, Allah sayang aku, Allah sayang aku. Allah tidak akan memberikan suatu ujian kepada hamba-Nya, kecuali Ia sayang. Karena Ia ingin hamba yang Ia sayang benar-benar hanya mencari Ia.

                Selasa, 2 Juni 2015
                Alhamdulillah di hari libur yang ceria ini, aku habiskan waktuku untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat. Berkumpul dengan orang yang luar luar biasa dalam acara Silaturahmi Kelas Inspirasi Batam bersama BEM Universitas Kota Batam.
                Apanya yang keren coba ver?
                Yap! Balik lagi, aku cuma seorang pembelajar. Dari anak-anak Kelas Inspirasi aku belajar, yang penting punya niat baik, In Shaa Allah semua akan berjalan dengan lancar. Untuk mempersiapkan acara itu, dipikirkan dengan serius tapi santai dan matang. Dijalanin aja. Tidak perlu menuntut kesempurnaan sebuah acara, yang penting semuanya merasa nyaman tetapi materi yang disampaikan bisa memikat. Belajar untuk berkenalan dengan orang baru dan bersikap ramah dan hangat kepada pendatang.

 *sumringah*

                Tapi, aku juga belajar lagi. Bahwasanya ketika kita memilih untuk menuruti perintah Allah dengan menggunakan jilbab yang baik, kita sudah dicap sebagai Ukhty dan alim. Sehingga, ketika kita berboncengan dengan laki-laki yang bukan mahram, maka ada perasaan aneh tersendiri yang mengganjal di dalam hati. Mungkin.. ini PR buat aku kedepannya.
                Selepas dari Kelas Inspirasi, aku kembali melanjutkan perjalananku bersilaturahmi ke rumah temanku yang Alhamdulillah sedang diberi rezeki oleh Allah berupa keturunan. Barakallahu, untuk Ibu Yessi dan Bang rian, Vidiah dan Riki, juga Yayuk dan Bang Madi. Semoga dengan kehadiran sang buah hati, semakin sakinah, mawaddah dan warahmahlah keluarga yang kalian bangun bersama. Aamiin Allahumma Aamiin.

                Sooo, apa lagi pelajaran yang kamu ambil?

                Mungkin kali ini, pelajaran yang aku ambil adalah ketika kita memang sudah lulus kuliah, kita akan disibukkan dengan banyak hal baik itu kerjaan maupun kegiatan-kegiatan lagi. Nah, banyak yang mengaku “alah! Ko susah di ajak ngumpul” | “ah! Udahlah ini yang terakhir aku ngajakin kalian ngumpul” | “kalian semua sudah berubah”.

*tim blusukan KHAH!*

                Yes! Masa itu pasti akan terjadi. Tapi, disini aku belajar bahwa kita harus menghargai orang lain dan kesibukan yang sedang mereka jalani. Jikapun ada kegiatan, sebaiknya memang kita dengan sabar mengajak dan terus mengajak. Walaupun memang pada akhirnya sedikit sekali yang hadir, tetapi kita harus tetap berjalan. Karena kita punya fokus! Apa itu? Silaturahmi. Mencoba untuk menepikan ego, mencoba untuk mengisi waktu dengan hal positif terus dan menerus.


 

- semoga Allah selalu menatap ke arahku, selalu dan selalu,,-