Rabu, 17 Mei 2017

Sweet Memories, Thanks!

Assalamualaikum..

ini adalah postingan pertamaku di tahun 2017. sebelumnya aku memang memutuskan diri untuk vakum dari media sosial selama lebih kurang satu semester. ada yang sedang aku kejar, dan Alhamdulillah tahun ini kesampaian. yaitu menjadi Guru di SMA.

Hari ini juga adalah hari terakhir aku mengajar kelas VI. ya, aku pasti akan merindukan mereka semua. Felix, Kelvin, Willy, Thres, Asep, Celine, Colyn, Shirley, Jocelyn,Tertyn. kalian adalah murid pertama yang aku perjuangkan, karena kalian adalah murid kelas VI.

terimakasih atas kejutan hari ini, terimakasih karena sudah mau nurut kata-kata ibu, terimakasih karena kalian berjuang dengan cara kalian sendiri, terimakasih karena sudah terus mau masuk ke kelas meskipun rasanya bosan dan lelah sekali. Ibu berdoa semoga kalian lulus dengan nilai yang terbaik.

seandainya nanti, suatu saat kalian membaca tulisan ini...

" Ibu tau sering ada baper diantara kita. Ibu sering marah, kesal bahkan menangis untuk kalian. semoga kalian mengerti bahwa ibu sayang kalian semua satu per satu tanpa ada beda. Apapun kegiatan positif yang kalian lakukan di luar sana, doa ibu yang terbaik selalu untuk kalian"

Senin, 07 Maret 2016

Perkenalkan, namaku Vera

Bismillah..

Menjawab tantangan Bang Syaiha untuk ODOP minggu kedua dengan tema Diri Sendiri, izinkan aku memperkenalkan diriku dengan sederhana. Namaku Vera Herawati TR, Aku lulusan dari Perguruan Tinggi Swasta yang bernama Universitas Riau Kepulauan dengan Pendidikan Matematika sebagai jurusan yang aku genggam. Seorang yang sedang dimabuk cinta belajar mengajar sebagai tenaga pendidik di sebuah Sekolah Dasar Swasta di Batam. 

sumber : www.komikmuslimah.com

Dipostingan kali ini, aku akan bercerita sedikit tentang aku..

***
sumber : google

Batam, Kota Industri orang sering bilang. Kuliah sambil bekerja bukanlah hal yang asing di telinga. Pagi bekerja, malam kuliah bahkan ada yang setelah kuliah harus melanjutkan bekerja kembali karena tuntutan perusahaan. Aku pun merasakan hal itu, dulu. Demi sebuah hal yang kusebut cita-cita

sembilan jam bekerja di sebagai administrasi di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang alat kesehatan, kemudian mengganti identitas menjadi mahasiswa di lima jam berikutnya. Kegiatan yang padat membuat aku menyelesaikan hari dengan cepat. Empat tahun berlalu, aku lulus menjadi seorang wisudawati bergelar sarjana pendidikan.

 Lantas? Apakah aku langsung menjadi seorang guru?

Belum.



Nyatanya, aku malah asik dengan rutinitasku di kantor sampai pada akhirnya, aku ikut sebuah kegiatan sosial yang bernama Kelas Inspirasi. Mungkin ada yang belum mengenal Kelas Insipirasi bisa klik disini. Secara ringkas, Kelas Inspirasi adalah sebuah komunitas profesional yang nantinya akan terjun ke sekolah untuk menjadi relawan yang akan memperkenalkan pekerjaannya ke anak-anak sekolah dasar. Karena aku di Batam, aku adalah salah seorang relawan Kelas Inspirasi Batam.


Bersama Relawan Kelas Inspirasi Batam di Pulau Panjang, Galang

Dari komunitas itulah, akhirnya aku meruncingkan kembali niat awalku menjadi seorang pendidik. Mengapa aku memilih menjadi guru sebagai cita-citaku? Sederhana saja. 


Karena aku mendapati kebahagiaan ketika aku bersama mereka, 
aku tidak merasa sedang bekerja ketika aku menekuni profesi ini. 
Alhamdulillah.
-veratr-

Jumat, 04 Maret 2016

Gerakan itu, dinamai Solidaritas Peduli Jilbab (3)

Bismillah

Baca cerita sebelumnya di sini : Part 1 , Part 2


TES wawancaraku, Alhamdulillah berlangsung dengan lancar. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku masih harus melewati satu tahap tes lagi. Aku tidak menyangka pada akhirnya aku akan bergabung dengan barisan perempuan-perempuan muslimah yang tangguh. 

***

maghrib itu, sepulang dari sekolah kuletakkan alat-alat tempurku ke lantai. kemudian, kurogoh laci-laci tasku mencari telepon pintarku. aku terkejut, sedikit. aku dimasukkan kedalam grup Peduli Jilbab Batam. Disana terdapat pemberitahuan bahwa kami, para anggota baru akan diberikan beberapa tugas yang merupakan sebuah tes tahap akhir.


Tugas itu adalah sebuah kegiatan. GEMAR namanya. Gerakan Menutup Aurat yang dilaksanakan serentak diseluruh Indonesia pada tanggal 14 Febuari 2016. Gerakan Menutup Aurat adalah sebuah kegiatan dimana kami turun langsung ke lapangan untuk mengajak para perempuan untuk menutup auratnya dengan menggunakan jilbab syar'i. Selain itu, dengan rezeki yang Allah berikan kami pun membagikan kaus kaki dan jilbab yang sesuai dengan apa yang Al-Qur'an sampaikan.



Aku memilih bagian humas sebagai devisi yang aku peluk. Maka, tugas pertamaku adalah mencari media untuk meliput kegiatan kami, mencari para donatur untuk mendukung kegiatan kami. Tidak begitu sulit mencari media, karena aku punya beberapa teman yang memang bekerja di lingkungan media. untuk yang ingin tahu tentang bagaimana kegiatan kami bisa klik link di bawah ini :

Peduli jilbab on Batamtoday
Peduli Jilbab on Batampos

Dengan rahmat Allah, banyak sekali tangan-tangan yang membantu kegiatan kami, dari Remaja Masjid, Himpunan Mahasiswa, Komunitas Islam lainnya, sampai dengan DPRD dan Pemerintah Kota Batam (Pemko Batam). Maa Shaa Allah. Segala Puji Bagi Allah.

Sungguh benar-benar diluar ekspektasi kami, segala macam bentuk kabaikan datang menyertai langkah kami sehingga kami menjadi lebih bersemangat. Kegiatan kami pun tidak kami duga bertepatan dengan event Pariwisata Nasional yang diadakan setahun sekali, sehingga pengunjung memang jauh lebih banyak dari minggu-minggu biasanya dan awalnya, aku mengira akan sulit mengajak mereka untuk mampir ke stand kami dan mencoba jilbab syar'i namun, dengan rahmat Allah, Allah mudahkan kaki mereka untuk bergerak ke stand kami, tanpa perlu kami mencari.

Pendaftaran
 sungguh, sebuah kegiatan yang membuat aku merinding karena merasakan Allah sungguh-sungguh amat sangat dekat. Bahwa Allah Maha Kaya, Allah Pemilik dan Penggerak Hati makhluk-Nya


***

Dear Allah, 
Terimakasih ..
atas semua kesempatan, pengalaman, dan kebahagiaan yang Engkau berikan padaku..
semoga dengan caraku yang sederhana ini, untuk mencuri perhatian-Mu 
Engkau mau melihat ke arahku
perempuan yang tak luput dari lalai..
-veratr-




Kamis, 03 Maret 2016

Gerakan itu, dinamai Solidaritas Peduli Jilbab (2)

Bismillah, 
baca cerita sebelumnya disini..


Minggu 
24 Januari 2016 

Adalah jadwal tes wawancaraku yang bertepatan sekali dengan pemutaran film tausiyah cinta. Menurutku film ini recomended sekali untuk ditonton segala jenis umur dan yang menarik adalah pemisahan tempat duduk penonton antara ikhwan dan akhwat. 

Aku sendiri mengapresiasi tim tausiyah cinta yang benar-benar berdakwah dan memberi contoh langsung kepada para penikmat filmnya, dan satu lagi menonton film ini tidak untuk yang sedang berpacaran. Karena percuma, kalian nanti tetap akan dipisah. Ha ha


Nonton Bareng

Sepulang nonton bareng film tausiyah cinta *yang Maa Shaa Allah nampar banget* aku segerakan pergi ke masjid raya batam, disana tempatku bertemu dengan anggota Peduli Jilbab Batam.

Masjid Raya Batam

Alhamdulillah, mereka baik-baik semua. 

Wawancaraku berisi beberapa pertanyaan, yaitu 

“ apa motivasi kamu untuk ikut Peduli Jilbab”

“apa yang kamu ketahui tentang Peduli Jilbab”

Semua aku jawab, dengan apa adanya. 

Motivasiku untuk bergabung bersama adalah aku ingin bisa menjadi seseorang yang bisa mendakwahi diriku sendiri. Lewat kegiatan ini, aku berharap aku bisa terus belajar. 

Solidaritas Peduli Jilbab adalah sebuah kegiatan sosial yang mengajak muslimah untuk belajar tentang apa itu jilbab syar’i. untuk teman-teman yang ingin mengetahui lebih lanjut, bisa klik link di bawah ini


- web : pedulijilbab
- instagram : pedulijilbab
- twitter : pedulijilbab

ternyata, aku masih harus bersabar karena masih ada tes tahap selanjutnya..

*bersambung

Rabu, 02 Maret 2016

Gerakan itu, dinamai Solidaritas Peduli Jilbab

TAHUN lalu, menggunakan celana jeans, berjaket, Selenge’an. Ga lepas dari penampilanku kala itu. Engga pernah kefikiran bisa sampai ketahap ini. Tahap ketika aku benar-benar utuh menjadi seorang pembelajar. Tahap ketika aku merasa, Yaa Allah.. Maha Besar Engkau.. Maha Baik Engkau.. segala pujian, hanyalah untuk Engkau.

Aku adalah perempuan muslim yang baru belajar tentang islam. Boleh disimak ceritaku disini. Mengapa aku katakan demikian?

 Karena aku islam, tapi aku belum mengenal islam. Karena orang tuaku islam, maka jadilah aku islam. Karena aku islam, maka aku harus sungguh-sungguh mempelajari islam. Tapi, karena semangat itu ada di hati dan memang hati diciptakan dengan sifat yang tidak tetap, maka aku butuh penyemangat. Aku butuh teman, agar ketika aku lelah ada tangan yang siap menepuk pundakku. 



*** 

Penghujung januari, aku mendapatkan kabar dari media sosial tentang pembukaan pendaftaran anggota Solidaritas Pedulli Jilbab yang ketiga. Aku sudah mengetahui tentang komunitas ini sebelumnya dari salah seorang temanku. Dengan niat yang aku teguhkan, aku mencoba mendaftar untuk masuk kedalamnya. Sebenarnya, dalam hatiku tidak diterimapun tak mengapa secara memang aku belum punya banyak ilmu yang bisa aku andalkan.

Beberapa kali membuka websitenya, menunggu dengan cemas apakah ada namaku didalamnya namun ternyata belum ada kabar berita. Haha, sempat pesimis. “Yaudahlah, ndak diterima ndak apa-apa. Toh sudah ikutan liqo juga” ucapku sendiri dalam hati.

Dan Alhamdulillah,

Namaku muncul..

Tertulis dengan jelas

Seleksi Tahap I ku berhasil.


Ya, aku berhasil melewati seleksi tahap pertama. Masih ada seleksi selanjutnya, ternyata *aku sendiri mengira setelah pengumuman, berarti aku resmi jadi anggota* aku harus mengikuti seleksi tahap 2. Tes wawancara.


*bersambung

Selasa, 01 Maret 2016

Milikku (Bagian I)

"jadi kamu sudah tau?" dia bertanya dengan ekspresi yang sulit kutebak

"aku tau sejak lama"
hembusan angin membuatku semakin bergetar, aku butuh rumahku. sekarang.

"jika kau tahu, aku sudah berlaku seperti ini kepadamu, kenapa kau masih bersamaku?" tanyanya lagi

"dulu, kusebut perasaan ini cinta."

"apa kau masih mencintaiku?" dia bertanya

"ku kira sekarang aku mulai mengerti"

"apa yang kamu mengerti ka?"

kumohon, bisakah kau berhenti bertanya, bahkan untuk tegak didepanmu saja aku seperti sudah seperti kehabisan cakraku. 

"keegoisanku, membuat aku ingin bersamamu hari ke hari. membuat aku hanya ingin memilikimu seutuh-utuhnya tanpa boleh yang lain menyentuhmu. aku mau kamu. semua bagian dari hidupmu. tapi, aku sadar. dengan sikapku yang seperti mengurungmu kedalam penjara. kamu tersiksa. adalah mungkin kamu membutuhkan ketenangan pada hati yang lain. bukan di hatiku"

sunyi menyanyikan  tiap baris baitnya dengan sempurna. kami sama sama terdiam. ditempat ini, kulepas orang yang begitu aku cinta dengan hati yang kubekukan secara paksa. tempat ini, mungkin akan menjadi referensi tempat angker yang harus kuhindari saat ini.

***

Butiran kristal-kristal basah mengetuk alas bumi dengan derasnya. tak sama sekalipun terdengar suara-suara benturan yang membuat hati terasa mengilu. ya, hujan ini damai. Hujan kali ini hanya cukup memberitahukan kepada penduduk bumi, bahwa aku sedih tapi aku baik-baik saja.

serempak dengan itu, kusingkirkan selimut yang betah menggantung di tubuhku, sekarang aku ingin merasakan hawa sejuk yang dibawa dari seluruh penjuru. biar ku nikmati sendiri, karna hujan ini milikku.

bersambung..

Senin, 29 Februari 2016

terpaksa ikut ODOP?

menjawab Tantangan 1 bang syaiha.. 

Mengapa aku bergabung dengan ODOP?

WAKTU itu, ada pemberitahuan dari sebuah komunitas yang aku ikuti di facebook. Komunitas Bisa Menulis namanya, milik Asma Nadia. Dari link tersebut, aku mengenal ODOP. One Day One Post. Haha, sebenarnya mirip sebuah grup yang kuikuti juga, ODOJ (One Day One Juz). Konsep ODOP sama seperti ODOJ, mengajak anggotanya untuk tidak jauh dari sebuah kegiatan, membiasakan lebih tepatnya dan ODOP adalah menulis. Menulis setiap hari.

Aku tau, kegiatan ODOP ini tidaklah mudah. Karena awalnya, aku akan merasa terpaksa untuk kegiatan ini. Apalagi aku bukanlah orang yang terbiasa melakukan kegiatan tulis menulis di media. Terlebih hanya orang-orang konsisten yang bisa bertahan pada akhirnya.

 Namun, bukankah segala sesuatu yang baik memang lebih baik dipaksa agar bisa jadi terbiasa? Terbiasa agar menjadi lebih baik, tentunya.

Jadi?  Vera?  Kamu terpaksa ikut kegiatan ini?
Iya, Aku memaksa diriku untuk kegiatan yang bermanfaat ini, kegiatan yang In Shaa Allah positif ini. Memaksa agar aku mulai menulis. Memaksa diriku berkarya untuk diriku sendiri terlebih dahulu dan menyugesti diriku sendiri bahwa hasil tulisanku adalah hadiah untuk diriku sendiri. Membuang rasa malas dan karena aku yakin, teman-teman anggota ODOP nantinya pasti akan menyemangati ketika rasa lelah itu datang menghampiri. In Shaa Allah..

***

Orang boleh pandai setinggi langit
Tetapi selama ia tidak menulis
Ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah
Menulis adalah bekerja untuk keabadian
..Pramoedya Ananta Toer..